Celengan berkunci

Kurang lebih sudah seminggu anak-anak memiliki celengan unik ini, ada kuncinya. Sebelumnya mereka hanya menggunakan buku tabungan yang dibuatnya sendiri, ditulis sendiri, dan uangnya disimpan ibunya. Bahkan uangnya disimpan sendiri di kotak makanannya. Melihat kondisi itu aku iba.
Sekitar 2 tahun lalu anak-anak punya celengan kaleng yang sekali pakai. Ketika saatnya dibuka untuk beli sepeda isinya pecahan receh dan puluhan ribu hasil menabung selama 4 bulanan. Setelah dihitung jumlahnya sekitar 400 ribu. Padahal harga sepeda saat itu 700 ribu. Sepeda terbeli, bapaknya yang nambal.
Meski saat ini celengan itu berkunci dan kuncinya disimpan sendiri, aku percaya anak-anak bisa mengelola sendiri. Aku sendiri yang mengajak membeli celengan itu, si sulung milih, pink, warna yang diberikan ibunya sejak bayi.
Untuk memberi semangat, aku juga menabung di celengan ayam bekas celengannya. Aku masukkan uang dihadapan mereka untuk memicu mereka semangat menabung. Tapi… diam-diam aku juga memasukkan uang di celengan mereka, tanpa sepengetahuan mereka, agar menjadi surprise saat waktunya dibuka. Semoga manfaat barokah nak.
Ditulis dalam Blogging
Anak-anak pejuang luar biasa!

Hanya untuk ke sekolah, pelajar-pelajar ini harus bertaruh nyawa menyeberang jembatan yang runtuh di atas Sungai Ciberang, Lebak, Provinsi Banten. Jembatan ini baru dibangun pada 2001, tapi sudah runtuh akibat banjir yang terjadi pekan lalu. Foto ini sudah muncul di publikasi internasional seperti AP dan Reuters.
Hey! Ini pemerintahnya dimana sih! :-C :emosi:



Kredit : Yahoo! Indonesia.
Gak ngerti dengan hebohnya Katy Perry

Manisnya Konser Katy Perry. Begitu berita di Yahoo! Indonesia. Katy Perry sukses menggelar konser yang bertajuk “The California Dreams Tour 2012″ di Sentul International Convention Centre (SICC), Bogor pada Kamis (19/1 ) malam.
Dimana-mana beritanya bilang konser yang manis katanya. Aku masih gak ngerti apanya yang manis? Aku juga gak begitu ngerti kenapa orang ramai membicarakannya?
Selidik punya selidik, ternyata aku baru tahu konsernya memang manis, Katy banyak dikelilingi permen manis, lihat fotonya, kelihatan manis kan permennya?
Kredit Foto: Yahoo! Indonesia.
Ditulis dalam Blogging
Antara Guru Gaptek dan BB Culun


Silakan dikira-kira sendiri.
Ditulis dalam Blogging
Permainan Ghozwul Fiqri
Tiba-tiba saja aku teringat Minggu lalu dengan permainan itu. Pemandu meminta peserta untuk menjawab “Selamat pagi” dengan “siap-siap”, “Selamat siang” dengan “kerja keras”, “Selamat malam” dengan “enak tenan”.
Permainan berikutnya adalah tanda tangan. Peserta diminta tanda tangan sebanyak-banyaknya pada secarik kertas dalam hitungan 10. Setelah selesai, lakukan tanda tangan sebanyak-banyaknya sekali lagi di balik kertas itu dengan tangan yang berbeda dalam hitungan 10 juga.
Hasilnya, aku tak bisa melakukan dua permainan itu dengan lancar. Aku butuh adaptasi sekian waktu agar aku lancar menjawab selamat pagi dan tanda tangan dengan yang sudah biasa aku lakukan selama ini.
Saat menulis inipun aku melihat iklan detikcom di tv, seorang bos duduk membaca dengan setumpuk majalah berita di meja kantornya. Datang sekretarisnya dengan membawa iPad yang di dalamnya ada detikcom. Seketika itu pula bos itu menyingkirkan seluruh tumpukan majalah di atas mejanya hingga bersih, seolah-olah itu adalah hal yang biasa.
Awalnya, aku melihat kelakuan bos dalam iklan detikcom itu tidak patut karena tindakan kasarnya menyingkirkan apa saja di atas meja, seperti orang marah, tidak tahu unggah-ungguh alias tidak sopan. Tapi karena iklan itu berkali-kali tayang, maka itu seperti memaksa aku untuk menerima bahwa itu adalah hal yang biasa.
Pembaca sekalian, aku baru sadar bahwa itu semua adalah bagian dari permainan Ghozwul Fiqri atau orang biasa menyebut perang pemikiran. Maksudnya adalah mengubah pola pikir dari yang selama ini sudah biasa dilakukan, dari sesuatu yang tidak baik menjadi baik atau dari sesuatu yang baik menjadi tidak baik, semua menurut kepentingan tertentu.
Ditulis dalam Blogging
Refleksi awal tahun
Berbuat baik saja tidak cukup. Aku pikir akhir tahun dan awal tahun tidak jelas batasannya untuk berbuat amal sholih. Amal sholih, tentu lebih dari berbuat baik. Jika berbuat baik itu adalah profesional, maka amal sholih itu expert. Jika profesional itu bertindak sesuai dengan upah yang diberikan oleh manusia, maka expert lebih dari upah manusia, ia berbuat terbaik untuk mendapatkan rahmat dan ridhoNya.
Berikut ini kutipan nasehat refleksi akhir tahun, atau awal tahun pun tidaklah mengapa. Selamat mengambil pelajaran.
Refleksi Akhir Tahun
Pentolan The Beatles yang legendaris – John Lennon pernah bilang, “Hidup adalah apa yang terjadi ketika kita sedang sibuk membuat rencana lain.” Ketika kita sibuk membuat “rencana lain,” anak-anak kita tumbuh menjadi dewasa, orang-orang yang kita cintai menjadi tua dan kemudian pergi. Tubuh kita kehilangan bentuk dan impian-impian kita berlalu. Allah berfirman; ”Niscaya sungguh Aku ciptakan manusia di dalam keadaan sibuk/repot.” (Al-Balad 4). Jangankan yang kerja, yang nganggur pun teriak repot bin sibuk.
Eric Schmidt, CEO Google, dalam pidatonya dihadapan enam ribu wisudawan University of Pennsylvania, Amerika Serikat, pada 18 Mei 2009 lalu berujar, “Matikan komputermu. Matikan juga ponselmu. Dan perhatikan manusia di sekelilingmu…” Schmidt mengatakan demikian setelah melihat banyaknya kaum muda yang hanya terpaku pada gadget dan dunia virtual di internet. Seakan tak peduli untuk berelasi dengan orang lain. Padahal ada titah untuk bersilaturahim, bergaul. Srawung dengan akhlakul karimah. TI menjauhkan yang dekat – nyata – dan mendekatkan yang jauh dalam bentuk ghaib/fatamorgana. Kontradiksi. Rasulullah SAW bersabda “Tahukah kalian tentang sesuatu yang paling cepat mendatangkan kebaikan ataupun keburukan? Sesuatu yang paling cepat mendatangkan kebaikan adalah balasan (pahala) orang yang berbuat kebaikan dan menghubungkan tali silaturahmi, sedangkan yang paling cepat mendatangkan keburukan ialah balasan (siksaaan) bagi orang yang berbuat jahat dan yang memutuskan tali persaudaraan”(Rowahu Ibnu Majah).
Rekan – rekan yang baik hati, 2011 sebentar lagi akan berakhir. Andai saya boleh menyarankan untuk melakukan sedikit renungan di penghujung tahun ini, mari kita kembali merenungkan satu hal yang ini. Mudah-mudahan bisa memberi motivasi lebih menyambut tahun yang akan datang. Satu hal itu adalah ‘Seberapa besarkah tingkat kepedulian kita kepada sekitar?” Bagaimana kepedulian kepada pasangan? Bagaimana kepedulian kita kepada anak – anak? Bagaimana kepedulian kita kepada tetangga dekat? Orang tua? Saudara dekat? Jaman sudah banyak berubah. Teknologi sudah semakin meninggi. Keinginan – keinginan manusia semakin liar melambung. Tak terbendung. Pikiran-pikiran semakin membumbung melewati cakrawala. Namun, kita masih berpijak di bumi. Menjalani kehidupan dengan hukum Allah yang sudah jadi.
Mengapa saya menganjurkan melakukan hal ini (lagi)? Tak lain untuk menyadarkan diri akan kepentingan dan hakekat hidup. Agar tidak terpengaruh oleh jaman – yang sebagian menyebutnya sudah edan. Padahal yang edan orang – orang dengan berbagai keinginannya. Agar tidak lupa diri akan kesejatian dan asal-usul kita untuk kembali ke surga. Dengan segudang rasa peduli berarti kembali membumi. Dengan banyak perhatian berarti sadar berkelanjutan. Sadar akan visi, misi dan fitrah manusia sebagai makhluk sekaligus khalifatul ardh – khalifah Allah di muka bumi ini. Sebab jauh – jauh hari Rasulullah SAW mengingatkan agar manusia menjadi multi talenta. Rasulullah SAW bersabda “Orang yang cerdas ialah orang yang mampu mengoreksi dirinya dan selalu melakukan persiapan amal untuk menghadapi resiko yang datang setelah kematian”. (HR Ahmad)Mungkin sekaranglah, waktunya itu. Tak ada kata terlambat.
Kenapa harus peduli? Selama kita masih berkutat dengan diri sendiri (egoistis maksudnya), dan tidak peduli (cuek – bebek), selama itu pula jiwa kita tak akan pernah tumbuh, bertumbuh dan berkembang. Justru semakin kerdil, gersang, kritis, keras dan mungkin malah mati. Kita hanya akan mengalami transformasi, begitu kita berorientasi keluar.
Mulai memikirkan orang lain. Mulai bersentuhan dengan sekitar. Hati (jiwa) semakin berkembang, hidup dan bersinar. Imam Bukhory dalam suatu riwayat menyebutkan ruh itu junnudun mujannadah, saling berbaur sesama jenisnya. Seorang pengarang, Joseph Campbell, bahkan mengatakan, ”Pada saat kita berhenti berpikir tentang diri kita sendiri, kita sebenarnya tengah mengalami perubahan hati nurani yang sungguh heroik.” Berhenti berpikir tentang diri sendiri, berarti memperhatikan orang lain. Rasulullah SAW bersabda: ”Lebih mulianya muslim adalah yang lebih banyak manfaatnya mereka kepada manusia.” (Rowahu at-Tirmidzi) Peduli dan perhatian kepada orang lain sebenarnya menguntungkan – berbalik kepada diri sendiri.
Sayangnya, hal seperti ini mudah diucapkan tetapi susah dikerjakan. Memperhatikan dan memikirkan orang lain memang sangat sulit dilakukan, apalagi di zaman sekarang. Jaman di mana banyak orang terjangkit scarcity mentality(mentalitas kelangkaan), yaitu perasaan bahwa segala sesuatu sangat terbatas, sehingga berprinsip ‘Saya akan mengambil bagian saya dulu sebelum kehabisan. Karena itu, saya mesti duluan, peduli orang lain.’ Hampir setiap hari kita disibukkan dengan pekerjaan dan kegiatan yang tak habis-habisnya. Baik yang teragenda maupun yang mengada – ada. Yang menghasilkan ataupun hura – hura. Dalam hal ini persis seperti tafsir ayat at-Takatsur. Diriwayatkan dari Abi Hurairah RA bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: “Anak Adam berkata: Hartaku, hartaku, Allah berfirman: Apakah engkau memiliki harta wahai anak Adam kecuali apa yang engkau telah makan dan habis, atau engkau pakai lalu rusak, atau engkau sedekahkan lalu engkau berlalu membawanya dan apa-apa selain itu maka dia pergi dan ditinggalkan untuk orang lain”. (Rowahu Muslim) Dan pola ini terus berlanjut dan larut. Menggelinding.
Di sudut lainnya, banyak orang terkena ”sindrom” meminta, bukan ”virus” memberi. Mengapa kita suka meminta daripada memberi? Ada logika yang sepintas lalu masuk akal. Logika tersebut mengatakan, “Dengan meminta milik Anda akan bertambah, sebaliknya dengan memberi milik Anda akan berkurang.” Pikiran semacam ini menyesatkan. Menimbulkan ketamakan, perasaan takut untuk berbagi dan pengkerdilan jiwa. Abu Dzarr al Ghifari radhiallahu ‘anhu berkata, ” Kekasihku (Rasulullah) SAW bewasiat kepadaku dengan tujuh hal: (diantaranya) supaya mencintai orang-orang miskin dan dekat dengan mereka … tidak meminta-minta sesuatu pun kepada manusia.” (Rowahu Ahmad)
Nah, kesinambungan terlalu asik dengan diri kita sendiri akan menghasilkan kesulitan yang cukup serius dalam jangka panjang. Yah, dalam jangka panjang. Kita akan mengalami hambatan dalam pertumbuhan spiritual kita. Banyak orang yang beranggapan bahwa hal ini – memperhatikan orang lain – adalah kewajiban. Mereka salah besar! Memperhatikan orang lain adalah kebutuhan kita untuk menikmati hidup yang penuh makna. Ada banyak sekali kesempatan bagi kita memberikan perhatian kepada sekitar. Hal-hal yang sederhana sekalipun dapat berarti banyak bagi orang lain. Memberi perhatian kepada orang lain adalah cara terbaik untuk mencapai hakikat kemanusiaan yang sejati.
Banyak pasangan yang masuk dalam kelompok ”Jablay” – alias jarang dibelai. Banyak orang – orang tua yang tersangkut di sangkar emas, tapi miskin perhatian. Hidup terasing ditengah kelimpahan harta. Banyak anak yang tumbuh tanpa perhatian yang semestinya dari orang tua mereka. Banyak orang tua yang berdalih bahwa quality time jauh lebih penting ketimbang quantity time. Padahal, kasih sayang dan pengertian hanya akan terbina melalui proses yang perlahan-lahan dan membutuhkan banyak waktu. Betapa banyak para profesional yang cukup puas dengan memberikan sejumlah uang kepada orang tua mereka tanpa pernah mau tahu mengenai keadaan mereka yang sesungguhnya. Orang-orang seperti ini telah salah kaprah dalam memahami hidup seolah-olah segala sesuatunya bisa dibeli dengan uang.
Sastrawan Kahlil Gibran dengan apiknya berujar, ”Bila engkau memberi dari hartamu, tiada banyaklah pemberian itu. Bila engkau memberi dari dirimu itulah pemberian yang penuh arti.” Diri kita tak tergantikan dengan apa pun jua.Memberi tidak harus bernuansa materi. Bahkan memberikan perhatian sebenarnya jauh lebih berarti ketimbang memberikan materi yang sifatnya amat terbatas. Ibu Theresa dari Kalkuta bahkan mengatakan, ”Yang penting bukan seberapa besar yang kita perbuat, melainkan seberapa besar cinta kasih yang kita sertakan dalam perbuatan kita.” Cinta kasih adalah manifestasi perhatian. Hadir bersama keberadaan kita.
Untuk masalah keluarga bisa kita simak pituah Rasulullah SAW, “Seseorang dianggap telah berdosa jika ia menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggungannya.” (HR. Muslim no. 996)
Ke sekitar bisa dicermati atsar-atsar berikut dan banyak lagi yang lain. Rasulullah SAW bersabda: “Tidak beriman salah seorang di antara kamu hingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.” (Riwayat Bukhori, Muslim).Dari Abu Huroiroh r.a, bahwasanya Rasululloh SAW bersabda, ”Tidak akan masuk surga, seseorang yang tetangganya tidak tenang karena gangguannya.” (rowahu Bukhory fi adabil mufrod hadits no 121)
Dari Abdullah bin Musawir, ia berkata, aku mendengar Ibnu Abbas menyampaikan kepada Ibnu Zubair, ia berkata, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ”Tidak termasuk orang iman, orang yang kenyang sementara tetangganya kelaparan.” (Rowahu At-Thabrani di dalam Mu’jam Alkabir (12/154), Al-Baihaqi (10/3), Abu Ya’la (5/92))
Selanjutnya cara menunjukkan perhatian dan kepedulian kita adalah dengan mendengarkan. Seorang anak pernah mengungkapkannya dengan sangat baik, “Di masa pertumbuhanku, ayahku selalu menghentikan apa yang sedang dia kerjakan dan mendengarkanku saat aku begitu bersemangat menceritakan apa yang telah aku alami seharian.” Sudahkah kita lakukan? Mendengarkan dengan benar adalah melupakan diri sendiri dan memberikan perhatian lahir dan batin yang tulus. Dengan mendengarkan kita dapat menangkap bukan hanya apa yang dikatakan tetapi juga apa yang dirasakan. Mendengarkan amat penting untuk bisa memberikan sesuatu yang benar-benar dibutuhkan orang lain, bahkan sekalipun mereka tidak mengatakannya. Kahlil Gibran pernah mengatakan, “Adalah baik untuk memberi ketika diminta, tapi jauh lebih baik lagi jika memberi tanpa harus diminta.”
Rekan, untuk memulainya mari perhatikan diri kita ini. Rasanya sudah cukup bukan, apa yang kita lakukan buat diri kita selama ini? Kemudian perhatikan orang-orang terdekat kita. Lihatlah mereka dengan hati Anda. Bukankah orang tua Anda adalah orang yang rela mengorbankan hidupnya bagi Anda? Bukankah pasangan Anda adalah orang yang telah memilih menyerahkan hidupnya kepada Anda? Bukankah anak-anak Anda sangat mengagumi Anda dan merindukan kebersamaan dengan Anda? Bukankah pembantu Anda adalah orang yang mengabdikan hidupnya untuk melayani Anda? Teruslah perluas dengan mengamati orang-orang di sekitar Anda. Mereka semua memiliki penderitaan dan tantangan masing-masing. Seorang guru kehidupan pernah mengatakan, ”Ketika kamu melihat dirimu tidak berbeda dari orang lain, ketika kamu merasakan apa yang mereka rasakan, lalu siapa yang bisa kamu sakiti?”
Sebagai penutup simaklah untaian kata – kata bijak berikut ini. Selamat instrospeksi.
Bila engkau baik hati, bisa saja orang lain menuduhmu punya pamrih;
tapi bagaimanapun, berbaik-hatilah.Bila engkau jujur dan terbuka, mungkin saja orang lain akan menipumu;
tapi bagaimanapun, jujur dan terbukalah.Bila engkau mendapat ketenangan dan kebahagiaan, mungkin saja orang lain jadi iri;
tapi bagaimanapun, berbahagialah.Bila engkau sukses, engkau akan mendapat beberapa teman palsu, dan beberapa sahabat sejati;
tapi bagaimanapun, jadilah sukses.Apa yang engkau bangun selama bertahun-tahun mungkin saja dihancurkan orang lain hanya dalam semalam;
tapi bagaimanapun, bangunlah.Kebaikan yang engkau lakukan hari ini, mungkin saja besok sudah dilupakan orang;
tapi bagaimanapun, berbuat baiklah.Bagaimanapun, berikan yang terbaik dari dirimu.
Pada akhirnya, engkau akan tahu bahwa ini adalah urusan antara engkau dan Tuhanmu.
Ini bukan urusan antara engkau dan mereka.
Faizunal Abdillah
Menjadi dosen hanyalah persoalan bagaimana menjalani hidup, bukan bagaimana mencari uang
Kaget dan mengena, ini yang aku tangkap dari tulisan autokritik seputar ilmuwan, Harga Ilmuwan Indonesia, tepatnya seputar dosen sebagai salah satu dari ilmuwan. Artikel tersebut mengkiritisi bahwa adanya kelemahan sistem perundangan dan sistem sosial yang tidak melindungi kepentingan kaum ilmuwan. Dengan kata lain, kita tidak sekadar butuh ilmuwan yang mampu menghasilkan produk yang bisa dijual, tetapi juga sistem sosial yang dapat diandalkan untuk kehidupan para ilmuwan. Baik UU No 14/2005 tentang Guru dan Dosen maupun UU No 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional tidak menentukan standar kehidupan yang layak bagi seorang dosen. Apalagi, UU tersebut sekaligus menegaskan bahwa dosen tidaklah berlindung di bawah UU Ketenagakerjaan.
Aku tidak bermaksud menulis ulang artikel tersebut, hanya perlu menggarisbawahi dan memberikan catatan mengingat pengalaman aku menjadi dosen tetap swasta sebagai berikut:
- Jumlah gaji dosen tetap Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Mataram, Nusa Tenggara Barat sama dengan upah minimum Provinsi NTB, yakni Rp 950.000. (jika demikian, menjadi dosen swasta adalah sama dengan menjadi pekerja buruh)
- Gaji ilmuwan Indonesia hanya sepertujuh dari Malaysia atau seperseratus dari Jepang. (itu karena mungkin disebut memiliki sistem perundangan dan sistem sosial yang bagus)
- Menilik Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, untuk menjadi dosen, seseorang haruslah menamatkan strata dua, memiliki sertifikat sebagai pendidik, dan berada di bawah naungan institusi pendidikan. (gak gampang, misal untuk masuk S2 harus memiliki score min TOEFL 450 dan TPA 500, untuk memiliki sertifikat pendidik S2 harus memiliki bidang ilmu relevan dan lolos test)
- Penghasilan menempatkan ilmuwan dalam satu kelompok dengan para buruh pabrik atau pekerja informal. (contohnya di nomor 1 di atas)
- Pendapatan dosen bervariasi berdasarkan institusi, jabatan fungsional, pengalaman kerja, dan pendidikan. (kadang yang ini dieksploitasi selisihnya hanya sekian ribu sampai puluhan ribu saja perbulan, yang penting ada selisih, jangan dihitung dari besar kecilnya.
) - Jika pendapatan dosen PTN mulai dari Rp 1,5 juta hingga Rp 13 juta, dosen PTS sekira Rp 500.000 hingga Rp 3 juta. (betul, tetapi sebagian perguruan tinggi swasta ternama dan keren menggaji sama dengan PTN bahkan lebih tinggi.)
- Dosen yang berlindung di bawah institusi pendidikan partikelir telah hidup di antara jumlah satuan kredit semester (SKS) dan kebaikan yayasan. Berdasarkan UU No 14/2005 tentang Guru dan Dosen, tepatnya pada Pasal 72 Ayat 2 dinyatakan, dosen wajib mengajar 12 hingga 16 SKS. Apabila satu SKS dihargai Rp 50.000, si dosen hanya akan mendapatkan penghasilan Rp 600.000 hingga Rp 800.000 per bulan. (betul)
- Produk yang dihasilkan seorang dosen: rencana proses pembelajaran (RPP), bahan ajar, modul, buku, dan makalah. (betul produk dosen adalah seperti demikian, tetapi tugas dosen kadang harus merangkap beberapa bidang kerja yang lain seperti menjadi administrator, laboratorium, teknisi, dsb, belum termasuk penelitian dan pengabdian masyarakat.)
- Produk tersebut tidak memiliki korelasi dengan kenaikan jumlah mahasiswa atau berujung pada kenaikan pendapatan pengelola perguruan tinggi. Paling banter, gelar seorang dosen dijadikan untuk ”menakut-nakuti” para calon pengguna. Setelah itu, dosen hanya mewah di dalam kampus, tetapi merana di luar.
(tentang korelasi kupikir itu hanya hipotesis penulis saja atau mungkin aku belum baca hasil penelitiannya, sedangkan gelar dosen untuk “menakut-nakuti” itu mungkin juga pengalaman penulis saja, Pengalaman aku dulu ketika gagal masuk PTN dan tertarik ke PTS yang pertama kulihat adalah siapa pengajarnya melalui gelarnya, padahal yang begini ini menyesatkan. Mengapa? Jika pada program studi teknik tertentu kadang gelar pengajar tidak linear dengan bidang ilmu yang diajarkan, sehingga yang tampak hanya sebagai alat keren-kerenan saja.)
Dengan demikian penulis mengasumsikan, dengan sistem perundangan dan sistem sosial seperti yang ada saat ini, menjadi dosen bukanlah pekerjaan yang sudah pasti menuai penghasilan yang memadai. Pada kenyataannya, menjadi dosen hanyalah persoalan ”bagaimana saya menjalani hidup” dan bukan ”bagaimana saya mencari uang”. Ketika dunia digerakkan dengan mesin, dan segala-galanya diukur dengan uang, semangat ”menjalani hidup” itu hanya akan menjadi idealisme konyol di tengah gurita materialisme dan hedonisme.
Tentu artikel tersebut bukan mengajak dosen agar “mata duitan dan mengejar bagaimana mencari uang” di tengah pasar bebas yang hedonis dan konsumtif ini, tetapi artikel tersebut mengajak para pembuat regulasi agar memperhatikan kelemahan-kelemahan yang ada pada sistem perundangan dan sistem sosial menjadi lebih baik. Dengan kata lain, dosen akan menjadi idealis dikarenakan sistem perundangan dan sistem sosial yang baik, betulkah?
Kritik dikritik soal tahun penuh dusta
Hal yang menarik lainnya dan perlu menjadi catatan aku adalah kritikan Pak Thomas Djamaluddin soal “2011 Tahun Penuh Dusta“.

Pak Thomas tertarik dengan makna luas refleksi itu, yang mengarah bukan hanya eksternal tetapi juga internal Muhammadiyah. Apalagi dalam Islam ada prinsip da’wah yang bersifat eksternal sekaligus internal yang diajarkan Allah dalam Al-Quran surat Ash-Shaaf: 2 – 4:
Menurut Pak Thomas,
Sayang, jiwa tajdid itu kini tampak meredup. Ketika ummat menghendaki persatuan dengan simbol fenomena sosial kebersamaan dalam berhari raya, Muhammadiyah masih bersikukuh dengan kriteria usangnya “Wujudul Hilal” (asal “hilal” wujud di atas ufuk) yang menghambat persatuan itu. Pernyataan keras tokoh-tokohnya menghadapi kritik atas kriteria usang itu mengindikasikan ada dusta internal yang didokrinkan seolah hisab itu paling hebat dan seolah hisab itu hanya wujudul hilal. Ketika diajak untuk bersatu dan bersepakat pada hisab kriteria imkan rukyat (perhitungan astronomi tentang kemungkinan terihatnya hilal) yang menyetarakan hisab dan rukyat tanpa meninggalkan metode hisab yang diyakininya, perwakilan mereka melakukan disenting opinion dan yang terlanjur menandatanganinya bersikeras membantah mewakili Muhammadiyah. Muhammadiyah ingin tetap berbeda dengan yang lain, seolah ajakan pada QS 61:4 untuk bersatu dalam barisan yang kokoh dianggapnya tidak penting. Superioritas organisasi tampaknya mengabaikan seruan Allah itu.
Tentu saja status Facebook Pak Thomas sering mendapat kecaman dan ini menarik untuk aku jadikan catatan hikmah.
Ditulis dalam Blogging
Kedholiman adalah menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya
Pagi ini aku tertarik menyimak status Facebook Pak Jazi Eko Istiyanto soal pertanyaan
“Mampukah Tuhan menciptakan sesuatu yang Dia tidak mampu mengangkatnya?”
dan jawaban Pak Jazi adalah :
“Tuhan itu Maha Kuasa, tetapi tidak serba bisa apa saja”.
Berikut adalah hal-hal yang tidak bisa dilakukan oleh Tuhan:
1. Punya anak
2. Punya bapak/ibu/paman/nenek/kakek dsb. (Lam yalid wa lam yuulad)
3. punya saudara
4. Menempati ruang makhluk dengan dzatNya (laisa Ka Mitslihi Syai-un)
5. Mengatakan “Aku bukan Tuhan” (Innani Anaa Allahu. Anaa Rabbukum Al-A’la)
6. Melanggar janji-janjiNya (Laa yukhlifu al-mie’ad”
Yang dituju oleh penanya tentu saja adalah : (1) kalau Tuhan tidak mampu mencipta, berarti bukan Tuhan (2) Kalau Tuhan tidak mampu mengangkat berarti bukan Tuhan. Kelemahan pertanyaan ini adalah mengasumsikan bahwa Tuhan adalah Superman (Manusia Super). Kalau manusia, ya jelas bukan Tuhan….
Pak Jazi pun mengiyakan tanggapan positif Pak LED dengan tegas
“Kedholiman adalah menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. Syirik (menyekutukan Allah) adalah kedholiman terbesar (QS Luqman). Ranah Tuhan berbeda dari ranah makhluk.”
Nice posting Pak.
Ditulis dalam Blogging

